"NURWANA NURUL IMAN"
Bersandar Hanya kepada Allah
Assalamualaikum wr wb.
Berikut ini adalah edisi perkenalan dari kami ''NURWANA NURUL IMAN''
yang insyaalloh akan melakukan ufdate terbitan untuk buletin jum,at
selama bulan suci romadhon ini,adapun semua bahasan tulisan yang akan
kami cetak bersumber dari ''CAHAYA ISLAM'' yang telah kami coppy di
setiap terbitannya oleh Ibu Pipik Dian Irawati beliau adalah salah
satu aktifis yang cukup baik untuk di teladani dan kini setiap
tulisannya sering kali hadir lewat facebook dan sudah kami simpan untuk
kami seleksi dan kami terbitkan mengisi ''BULETIN JUM'AT'' tak lupa
mohon maaf atas segala kekurangannya kritik serta saran silahkan sms
saja ke 081555992221-085735925729 ( wilman indra juanda .SE.)
Tiada
keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang
tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini
bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada
satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah
sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna,
segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang
menguasai.
Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha",
"Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.
"Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.
Sedangkan
keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah
mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi
sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan
sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan
terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil.
Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia
bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar
kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar
kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.
Padahal,
semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat
mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’
bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita
hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa
khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya
Allah.
Jabatan
diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung
jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah
memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan
kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka,
kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut
kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk
mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.
Tapi
bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan ...
Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada
Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak
apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam
pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak
apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi
mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun
kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya
kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi
penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.
Oleh
karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada
tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya.
Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar
dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi
selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan,
mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak
bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.
Punya
suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan
bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami
muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan
muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu
menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya.
Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah
sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.
Otak
cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup
dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala
bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.
Semakin
kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para
istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah
pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami
setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya
istri menitipkannya kepada Allah.
"Wahai
Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali,
titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun
supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan
jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong
diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup
rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh."
Insya
Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri,
subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya
hanya kepada Allah. "Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu", (QS. At Thalaq
[65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa
ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada
Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu
pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada
benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam
kekuasaan Allah. "Innallaaha ala kulli sai in kadir".
Oleh
karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan
penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin
banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, "Lahaula wala quwata illa
billaah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak
Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita
menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak
kepada yang lain, Insya Allah. SELAMAT DATANG BULAN SUCI RAMADHAN
..............''SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA ,SEMOGA KITA DIBERIKAN
KESABARAN ,DAN KEKUATAN IMAN
AMIIN YAA ROBBALLALAMIIN.
'' NURWANA NURUL IMAN''BEKERJASAMA DENGAN CATERING LAINNYA YANG BERADA DI SEPUTAR WUNUTSARI DIANTARANYA NIKMAT CATERING, BERKAH CATERING LATANSA CATERING ,SAM CATERING MELAYANI TASYAKURAN AQIQOH DENGAN BERBAGAI ANEKA MASAKAN SIAP SAJI''ANDA MAU AQIQOH PESAN SAJA DI "BAITUL AQIQOH NURWANA NURUL IMAN,,JL TEGAL GONDO RT 21 RW 06 KARANG PLOSO MALANG ,081555992221-085735925729. ( INDRA)
AMIIN YAA ROBBALLALAMIIN.
'' NURWANA NURUL IMAN''BEKERJASAMA DENGAN CATERING LAINNYA YANG BERADA DI SEPUTAR WUNUTSARI DIANTARANYA NIKMAT CATERING, BERKAH CATERING LATANSA CATERING ,SAM CATERING MELAYANI TASYAKURAN AQIQOH DENGAN BERBAGAI ANEKA MASAKAN SIAP SAJI''ANDA MAU AQIQOH PESAN SAJA DI "BAITUL AQIQOH NURWANA NURUL IMAN,,JL TEGAL GONDO RT 21 RW 06 KARANG PLOSO MALANG ,081555992221-085735925729. ( INDRA)

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda